TIGA MALAM
TERMASYHUR DI KEMAH MUSUH
Oleh: Nathan Mintaraga
Dalam waktu hampir bersamaan dengan kesuksesan luar biasa yang sedang dicapai oleh album klasik ‘Gang Kelintji’ 1, sebuah album lain (LP) 2 berisi 12 lagu baru: ‘Tiga Malam’ 1, hasil kerja sama Lilis Suryani dengan Irama Records, diluncurkan di pasaran musik populer Indonesia. Seperti album ‘…. Ia Tetap Diatas !!’, album itu juga direkam dengan iringan orkes Bayu (Baju) di bawah pimpinan F Pareira. Sekali lagi, tampak nyata, disorot dari aransemen musiknya, orkes tersebut berusaha keras untuk mengulangi kesuksesan album ‘Antosan’ dengan meniru aransemen-aransemen musik Idris Sardi saat mengiringi Lilis hampir dua tahun sebelumnya. (Lihat artikel: Menyanjung PYM: ‘.... Ia Tetap Diatas !!’ – ‘Signature Album’ yang Kedua)
Ternyata semua itu disebabkan oleh karena ‘…. Ia Tetap Diatas !!’ dan ‘Tiga Malam’
sebenarnya direkam serentak tahun 1965 untuk dirilis secara berurutan
sebagai dua LP tahun itu dan tahun berikutnya (1966). Itulah sebabnya,
seperti album yang pertama, jika didengarkan lagi sekarang, sekalipun
bagus, lagu-lagu di dalam album kedua: ‘Tiga Malam’ juga terdengar kuno dan ketinggalan jaman!
Monday, May 20, 2013
17 Tiga Malam
Labels:
2by2,
Artis Legendaris,
Baju,
Broery Marantika,
Bung Karno,
Djali-Djali,
F Pareira,
Gendjer-Gendjer,
Irama Records,
Musik 60-an,
Sakuntala,
Siti Nurhaliza,
Tiga Malam,
Titiek Puspa,
Walang Kekek,
Waldjinah,
Wikipedia
Saturday, May 4, 2013
16 Pantja Nada
PANTJA NADA
SEKALI TETAPI ABADI
Oleh: Nathan Mintaraga
Di samping Eka Sapta dan Zaenal Combo sebagai orkes-orkes yang ikut mendominasi dunia musik populer di Indonesia sepanjang dasawarsa ke-60, Pantja Nada adalah band terpenting ketiga yang berasal dari era itu.
Tetapi dibandingkan dengan kedua orkes yang sudah berhasil meninggalkan legacy mereka di sana dengan menciptakan berbagai album yang tak terlupakan sepanjang masa, Pantja Nada gagal meninggalkan kesan yang serupa. Kebanyakan album-album hasil karya mereka mudah dilupakan.
SEKALI TETAPI ABADI
Oleh: Nathan Mintaraga
Tetapi dibandingkan dengan kedua orkes yang sudah berhasil meninggalkan legacy mereka di sana dengan menciptakan berbagai album yang tak terlupakan sepanjang masa, Pantja Nada gagal meninggalkan kesan yang serupa. Kebanyakan album-album hasil karya mereka mudah dilupakan.
Saturday, April 20, 2013
15 Hadiah Ulang Tahun
HADIAH ULANG TAHUN
KISAH TERCIPTANYA GANG KELINCI
Oleh: Nathan Mintaraga
Sampai saat ini berbagai berita mengenai proses penciptaan lagu iconic Gang Kelintji masih bisa dibaca di beberapa blogs dan situs-situs dunia maya. Sekalipun asal-usul terciptanya lagu gubahan Titiek Puspa itu ditulis dengan kalimat-kalimat yang agak berbeda, tampak nyata sekali berdasarkan kemiripan inti ceriteranya, kisah itu pasti berasal dari sumber yang sama.
Tertulis di sana, bahwa sesuai kisah yang dituturkan oleh Titiek Puspa sendiri, suatu hari di tahun 1963 rumahnya di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, didatangi oleh seorang gadis bertubuh mungil yang belum pernah dikenal olehnya. Seharian gadis remaja itu, yang mengaku dirinya sebagai penyanyi, bersikeras tidak mau pergi meninggalkan rumah itu, jika Titiek tidak menciptakan sebuah lagu untuknya terlebih dahulu.
KISAH TERCIPTANYA GANG KELINCI
Oleh: Nathan Mintaraga
Sampai saat ini berbagai berita mengenai proses penciptaan lagu iconic Gang Kelintji masih bisa dibaca di beberapa blogs dan situs-situs dunia maya. Sekalipun asal-usul terciptanya lagu gubahan Titiek Puspa itu ditulis dengan kalimat-kalimat yang agak berbeda, tampak nyata sekali berdasarkan kemiripan inti ceriteranya, kisah itu pasti berasal dari sumber yang sama.
Tertulis di sana, bahwa sesuai kisah yang dituturkan oleh Titiek Puspa sendiri, suatu hari di tahun 1963 rumahnya di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, didatangi oleh seorang gadis bertubuh mungil yang belum pernah dikenal olehnya. Seharian gadis remaja itu, yang mengaku dirinya sebagai penyanyi, bersikeras tidak mau pergi meninggalkan rumah itu, jika Titiek tidak menciptakan sebuah lagu untuknya terlebih dahulu.
Tuesday, April 2, 2013
14 Titiek Puspa
TITIEK PUSPA
ARTIS TELADAN
Oleh: Nathan Mintaraga
Dari awal era itu artis legendaris Titiek Puspa sudah diakui sebagai seorang seniwati profesional yang paling disegani oleh artis-artis lainnya. Dianggap sebagai sesepuh di bidang kesenian yang harus dihormati, ia selalu dijadikan teladan oleh mereka. Sikapnya yang arif, bijaksana, keibuan dan suka menolong, menjadi penyebab mengapa para penyanyi (remaja) lain yang sedang memerlukan pendapat, nasihat atau bantuan selalu berusaha mencari dia. Dan semua itu tidak terbatas pada persoalan musik belaka!
Tidak dapat disangkal, bahwa selain itu banyak di antara mereka yang mengagumi kemampuan Titiek di dalam menciptakan lagu-lagu yang pada waktu itu hampir semuanya mempunyai potensi besar untuk menjadi hits.
ARTIS TELADAN
Oleh: Nathan Mintaraga
Dari awal era itu artis legendaris Titiek Puspa sudah diakui sebagai seorang seniwati profesional yang paling disegani oleh artis-artis lainnya. Dianggap sebagai sesepuh di bidang kesenian yang harus dihormati, ia selalu dijadikan teladan oleh mereka. Sikapnya yang arif, bijaksana, keibuan dan suka menolong, menjadi penyebab mengapa para penyanyi (remaja) lain yang sedang memerlukan pendapat, nasihat atau bantuan selalu berusaha mencari dia. Dan semua itu tidak terbatas pada persoalan musik belaka!
Tidak dapat disangkal, bahwa selain itu banyak di antara mereka yang mengagumi kemampuan Titiek di dalam menciptakan lagu-lagu yang pada waktu itu hampir semuanya mempunyai potensi besar untuk menjadi hits.
Labels:
Anneke Gronloh,
Artis Legendaris,
Dara Puspita,
Gang Kelintji,
Irama Records,
Ismail Marzuki,
Lilis Suryani,
Mari Mari,
Minah Gadis Dusun,
Mus Mualim,
Musik 60-an,
Si Hitam,
Titiek Puspa,
Wikipedia
Monday, March 18, 2013
13 Gang Kelintji
GANG KELINTJI
‘SIGNATURE ALBUM’ YANG KETIGA
Oleh: Nathan Mintaraga
Dari berpuluh-puluh album yang pernah direkam dan dirilis oleh Lilis Suryani di Indonesia, terutama dari tahun 1963 sampai 1971, di samping dua album (LP) 1 sebelumnya: ‘Antosan’ (1964) dan ‘.... Ia Tetap Diatas !!’ (1965), album ‘Gang Kelintji’ 2 (1966) adalah album terpenting sepanjang masa kariernya yang panjang dan menakjubkan itu.
Kesuksesan album tersebut yang dipenuhi oleh delapan lagu tak terlupakan yang semuanya tak terkecualikan menjadi hits di seluruh Nusantara ternyata membuktikan, bahwa kali ini Lilis benar-benar sudah berhasil meraih puncak karier musiknya. Kesuksesan album tersebut mengatasi segala sesuatu yang pernah dicapai olehnya selama itu dari awal sampai tahun 1966, di mana ia benar-benar menikmati kejayaan yang tidak pernah dicapai oleh artis-artis lain sebelumnya.
‘SIGNATURE ALBUM’ YANG KETIGA
Oleh: Nathan Mintaraga
Dari berpuluh-puluh album yang pernah direkam dan dirilis oleh Lilis Suryani di Indonesia, terutama dari tahun 1963 sampai 1971, di samping dua album (LP) 1 sebelumnya: ‘Antosan’ (1964) dan ‘.... Ia Tetap Diatas !!’ (1965), album ‘Gang Kelintji’ 2 (1966) adalah album terpenting sepanjang masa kariernya yang panjang dan menakjubkan itu.
Kesuksesan album tersebut yang dipenuhi oleh delapan lagu tak terlupakan yang semuanya tak terkecualikan menjadi hits di seluruh Nusantara ternyata membuktikan, bahwa kali ini Lilis benar-benar sudah berhasil meraih puncak karier musiknya. Kesuksesan album tersebut mengatasi segala sesuatu yang pernah dicapai olehnya selama itu dari awal sampai tahun 1966, di mana ia benar-benar menikmati kejayaan yang tidak pernah dicapai oleh artis-artis lain sebelumnya.
Thursday, February 28, 2013
12 Tidurlah
TIDURLAH
MENGEKSPERIMEN DANGDUT
Oleh: Nathan Mintaraga
Suatu hal penting lainnya yang menyebabkan album (LP) 1 ‘…. Ia Tetap Diatas !!’ cukup unik saat diluncurkan adalah kehadiran sebuah irama baru di dalam album tersebut yang tidak pernah didendangkan oleh Lilis Suryani sebelumnya.
Melalui lagu Tidurlah, sebuah lagu dengan syair yang ditulis olehnya sendiri, Lilis berusaha memadu irama musik populer Indonesia dengan irama musik yang masih terdengar ‘asing’ sekali bagi telinga para penggemar setianya, yaitu irama Pop-Melayu, yang kemudian juga dikenal di tanah air sebagai irama ‘dangdut’.
MENGEKSPERIMEN DANGDUT
Oleh: Nathan Mintaraga
Suatu hal penting lainnya yang menyebabkan album (LP) 1 ‘…. Ia Tetap Diatas !!’ cukup unik saat diluncurkan adalah kehadiran sebuah irama baru di dalam album tersebut yang tidak pernah didendangkan oleh Lilis Suryani sebelumnya.
Melalui lagu Tidurlah, sebuah lagu dengan syair yang ditulis olehnya sendiri, Lilis berusaha memadu irama musik populer Indonesia dengan irama musik yang masih terdengar ‘asing’ sekali bagi telinga para penggemar setianya, yaitu irama Pop-Melayu, yang kemudian juga dikenal di tanah air sebagai irama ‘dangdut’.
Saturday, February 9, 2013
11 Menyanjung PYM: ‘.... Ia Tetap Diatas !!’
MENYANJUNG PYM: ‘.... IA TETAP DIATAS !!’
‘SIGNATURE ALBUM’ YANG KEDUA
Oleh: Nathan Mintaraga
Dalam waktu hampir bersamaan dengan kesuksesan luar biasa yang dicapai oleh album ‘Tjing Tulungan’ 1, sebuah album lain (LP) 2 berisi 12 lagu baru dengan judul: ‘…. Ia Tetap Diatas !!’ (1965), hasil kerja sama Lilis Suryani dengan Irama Records, diluncurkan di pasaran musik Indonesia. Album itu direkam dengan iringan orkes Baju di bawah pimpinan F Pareira.
Tampak nyata dari cara-cara aransemen musiknya, orkes tersebut berusaha
keras sekali mengulangi segala sesuatu yang sudah dilakukan oleh Idris Sardi dengan orkesnya saat mengiringi Lilis merekam album ‘Antosan’ setahun sebelumnya.
Tetapi meskipun menggunakan berbagai instrumen musik yang sama seperti yang sudah dipergunakan oleh pemusik legendaris tersebut, baik biola, cello, klarinet maupun saksofon, apalagi meniru semua aransemennya, akhir kesudahan album itu jelas tidak sesempurna kualitas album pendahulunya. Bahkan sekarang LP tersebut terdengar agak kuno, terdengar sekali umurnya yang sudah hampir setengah abad!
‘SIGNATURE ALBUM’ YANG KEDUA
Oleh: Nathan Mintaraga
Tetapi meskipun menggunakan berbagai instrumen musik yang sama seperti yang sudah dipergunakan oleh pemusik legendaris tersebut, baik biola, cello, klarinet maupun saksofon, apalagi meniru semua aransemennya, akhir kesudahan album itu jelas tidak sesempurna kualitas album pendahulunya. Bahkan sekarang LP tersebut terdengar agak kuno, terdengar sekali umurnya yang sudah hampir setengah abad!
Labels:
Artis Legendaris,
Baju,
Bing Slamet,
Bung Karno,
Bung Karno Djaja,
F Pareira,
G30S,
Gendjer-Gendjer,
Irama Records,
Lilis Suryani,
Muhibah,
Musik 60-an,
Telepon,
Untuk PJM Presiden Sukarno,
Wikipedia
Saturday, January 26, 2013
10 Zaenal Combo
ZAENAL COMBO
DARI ‘TJING TULUNGAN’ SAMPAI ‘SELAMAT TINGGAL’
Oleh: Nathan Mintaraga
Salah satu orkes yang mendominasi dunia musik populer di Indonesia sepanjang pertengahan terakhir dasawarsa ke-60 adalah band Zaenal Combo yang dipimpin oleh pemusik termasyhur Zaenal Arifin. Bertahun-tahun lamanya ketika orkes Eka Sapta masih menikmati kejayaan yang fenomenal, terutama pada saat bekerja sama dengan Lilis Suryani, dengan sia-sia ia dan orkesnya terus berusaha mendobrak tembok penghalang kesuksesan industri musik rekaman nasional yang memang sukar sekali untuk dilakukan.
Pada waktu itu Zaenal Arifin sudah dikenal sebagai penemu grup duet Pattie Bersaudara. Dengan orkesnya di bawah label Remaco, ia juga mengiringi banyak artis lainnya, seperti: Elly Kasim, Tjitjik Suwarno, Tati Saleh, Annie Rae, Lanny Sisters, Trio Asters, Saimima Sisters, The Begous dan lain sebagainya. Kendatipun demikian hampir semua hasil rekaman mereka tidak mampu untuk bisa meninggalkan kesan yang indah di hati para pendengarnya. Sekalipun ada yang menjadi hit, semuanya mudah sekali dilupakan orang.
DARI ‘TJING TULUNGAN’ SAMPAI ‘SELAMAT TINGGAL’
Oleh: Nathan Mintaraga
Salah satu orkes yang mendominasi dunia musik populer di Indonesia sepanjang pertengahan terakhir dasawarsa ke-60 adalah band Zaenal Combo yang dipimpin oleh pemusik termasyhur Zaenal Arifin. Bertahun-tahun lamanya ketika orkes Eka Sapta masih menikmati kejayaan yang fenomenal, terutama pada saat bekerja sama dengan Lilis Suryani, dengan sia-sia ia dan orkesnya terus berusaha mendobrak tembok penghalang kesuksesan industri musik rekaman nasional yang memang sukar sekali untuk dilakukan.
Pada waktu itu Zaenal Arifin sudah dikenal sebagai penemu grup duet Pattie Bersaudara. Dengan orkesnya di bawah label Remaco, ia juga mengiringi banyak artis lainnya, seperti: Elly Kasim, Tjitjik Suwarno, Tati Saleh, Annie Rae, Lanny Sisters, Trio Asters, Saimima Sisters, The Begous dan lain sebagainya. Kendatipun demikian hampir semua hasil rekaman mereka tidak mampu untuk bisa meninggalkan kesan yang indah di hati para pendengarnya. Sekalipun ada yang menjadi hit, semuanya mudah sekali dilupakan orang.
Labels:
Alfian,
Artis Legendaris,
Ernie Djohan,
Musik 60-an,
Pattie Bersaudara,
Remaco,
Retno,
S Warno,
Sendja di Kaimana,
Tetty Kadi,
Titiek Sandhora,
Tjing Tulungan,
Wikipedia,
Zaenal Arifin,
Zaenal Combo
Tuesday, January 1, 2013
09 Kau Pembela Nusa dan Bangsa
KAU
PEMBELA NUSA DAN BANGSA
MENGOBARKAN HEROISME
Oleh: Nathan Mintaraga
Larangan wewenang atas penyiaran lagu Risau disusul oleh berita-berita
negatif yang didesas-desuskan oleh media mengenai orientasi seksualitas Lilis
Suryani gara-gara lagu Hilda, lagu kedua yang juga berasal
dari album ‘Antosan’, ternyata tidak mampu menghalangi kesuksesan karier
musik nasionalnya. Karena justru kebalikannyalah yang terjadi!
Tidak lama sesudah itu, diiringi oleh band Zaenal Combo di bawah
pimpinan Zaenal Arifin, yang baru
saja mengalami ‘dobrakan’ luar biasa dengan album (LP) 1 mereka ‘Sendja di Kaimana’ (Lihat
artikel: Zaenal Combo – Dari ‘Tjing Tulungan’ sampai ‘Selamat Tinggal’), yang berhasil
mengorbitkan lagu-lagu klasik dari artis-artis seperti: Retno (Selamat Berpisah), S.
Warno (Hadiah Hari Ulang Tahun) dan Alfian (Semalam di Tjiandjur), Lilis merekam dan merilis empat lagu klasik
lainnya di bawah label Remaco (1965): Tjing Tulungan, Kau
Pembela Nusa dan Bangsa, Hesty dan Lydia.
Labels:
Alfian,
Artis Legendaris,
Hesty,
Kau Pembela Nusa dan Bangsa,
Lilis Suryani,
Musik 60-an,
Remaco,
Retno,
S Warno,
Selamat Berpisah,
Sendja di Kaimana,
Tjing Tulungan,
Wikipedia,
Zaenal Arifin,
Zaenal Combo
Friday, November 30, 2012
08 ‘Diva-Itis’
‘DIVA-ITIS’
BERITA VS GOSIP
BERITA VS GOSIP
Oleh: Nathan Mintaraga
Sedari awal kariernya yang langsung
melejit secara luar biasa tahun 1963, Lilis
Suryani memang sudah dijadikan bahan perbincangan media di Indonesia. Pertama-tama oleh karena hampir semua lagu yang dirilis olehnya
terus merajai gelombang-gelombang udara di sana. Pers
menyadari, kemasyhuran nama Lilis menjamin kehausan rasa ingin tahu masyarakat
tentang artis yang sedang naik daun tersebut. Untuk itu mereka bersedia
menyampaikan berita apa pun saja mengenai dia kepada para penggemarnya,
sekalipun bahan yang ‘harus’
diperbincangkan sering kali sudah tidak ada lagi!
Seperti yang sudah dibahas di artikel
sebelumnya, Antosan – ‘Signature Album’ yang Pertama, gara-gara dua lagu kontroversialnya: Risau dan Hilda,
karena terus dijadikan bahan diskusi media, nama Lilis Suryani menjadi makin
tersohor. Tetapi, kalau sebelumnya hanya oleh karena berita-berita positif
saja, semenjak saat itu jaminan seperti itu sudah tidak ada lagi! Tampak nyata
sekali, artis remaja tersebut adalah sasaran (gosip) pers yang paling empuk.
Saturday, October 27, 2012
07 Antosan
ANTOSAN
‘SIGNATURE ALBUM’ YANG PERTAMA
Oleh: Nathan Mintaraga
Salah satu album (LP) 1 yang merupakan ‘signature album’ Lilis Suryani, yang membuat namanya
makin termasyhur dan diperbincangkan media di seluruh Indonesia adalah: ‘Antosan’
(1964), hasil kerja samanya dengan orkes Idris Sardi dan Bali Record.
Gaya musiknya yang sangat trendy
di era itu diilhami oleh salah satu album Connie
Francis yang paling tersohor di dunia: ‘Connie Francis Sings Modern Italian Hits’
(1963), dimana seperti album tersebut, keseluruhan iringan musiknya didominasi
oleh keindahan dengungan melodi hasil gesekan senar-senar biola Idris Sardi.
Labels:
Al Di La,
Antosan,
Artis Legendaris,
Bali Record,
Connie Francis,
Hesty,
Hilda,
Idris Sardi,
Kau Pembela Nusa dan Bangsa,
Lilis Suryani,
Musik 60-an,
Muslihat,
Risau,
Teungteuingeun,
Tjing Tulungan,
Wikipedia
Tuesday, October 2, 2012
06 Dari Moeslihat ke Mus K Wirya
DARI MOESLIHAT KE MUS K WIRYA
PARTNERSHIP DUA LEGENDA
Oleh: Nathan Mintaraga
Seperti partnership setia yang pernah terjadi di dunia musik internasional dasawarsa ke-60 antara dua legenda musik barat, yaitu penggubah lagu-lagu klasik: Burt Bacharach dan biduanita termasyhur: Dionne Warwick, terjadilah di Indonesia dalam waktu yang bersamaan partnership yang serupa antara dua legenda musik nasional: Muslihat dan Lilis Suryani.
Sekalipun kedua partnerships tersebut tidak bisa disetarakan, karena kondisinya berbeda, yang pasti keduanya meraih tujuan yang serupa, yaitu dengan bekerja sama menggunakan bakat seni masing-masing, mereka berhasil memproduksikan lagu-lagu yang mampu menembusi waktu!
PARTNERSHIP DUA LEGENDA
Oleh: Nathan Mintaraga
Seperti partnership setia yang pernah terjadi di dunia musik internasional dasawarsa ke-60 antara dua legenda musik barat, yaitu penggubah lagu-lagu klasik: Burt Bacharach dan biduanita termasyhur: Dionne Warwick, terjadilah di Indonesia dalam waktu yang bersamaan partnership yang serupa antara dua legenda musik nasional: Muslihat dan Lilis Suryani.
Sekalipun kedua partnerships tersebut tidak bisa disetarakan, karena kondisinya berbeda, yang pasti keduanya meraih tujuan yang serupa, yaitu dengan bekerja sama menggunakan bakat seni masing-masing, mereka berhasil memproduksikan lagu-lagu yang mampu menembusi waktu!
Labels:
A Riyanto,
Artis Legendaris,
Ismail Marzuki,
Jessy Wenas,
Lilis Suryani,
Musik 60-an,
Muslihat,
Onny Surjono,
Semalam,
Teungteuingeun,
Tjai Kopi,
Tjing Tulungan,
Tuty Subardjo,
Wikipedia,
Yasir Syam
Saturday, September 15, 2012
05 Dari Tjai Kopi Hingga Air Mata
DARI TJAI KOPI HINGGA AIR MATA
MENDOMINASI PASARAN MUSIK POP
Oleh: Nathan Mintaraga
Sampai saat ini Lilis Suryani adalah satu-satunya penyanyi Indonesia
yang berhasil merilis album-album dalam waktu yang bersamaan di bawah
berbagai label dengan iringan orkes-orkes yang berlainan. Record itu masih belum dipecahkan oleh artis-artis yang lain. Semenjak kesuksesan yang dialami oleh album ‘Paduan Djandji’ 1, Lilis justru diburu oleh perusahaan-perusahaan Piringan Hitam (PH) terbesar di Indonesia untuk bekerja sama dengan mereka. Bahkan yang berasal dari luar negeri! (Lihat artikel: Yale Yale – Menembus Pasaran Tetangga)
Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya: ‘Eka Sapta –Satu Terulung Tujuh Termahir’, oleh karena ketenaran Lilis Suryani yang luar biasa saat itu, berbagai band/orkes juga berlomba-lomba ingin membonceng kesuksesannya dengan mengiringi dia masuk studio rekaman. Menyadari permintaan masyarakat akan album-albumnya yang selama itu dijamin pasti laku sekali saat diluncurkan, perusahaan-perusahaan recording yang paling utama di Indonesia, seperti: Irama Records, Remaco dan Bali Record merasa tidak keberatan untuk mengontrak Lilis sendiri-sendiri dalam waktu serentak.
MENDOMINASI PASARAN MUSIK POP
Oleh: Nathan Mintaraga
Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya: ‘Eka Sapta –Satu Terulung Tujuh Termahir’, oleh karena ketenaran Lilis Suryani yang luar biasa saat itu, berbagai band/orkes juga berlomba-lomba ingin membonceng kesuksesannya dengan mengiringi dia masuk studio rekaman. Menyadari permintaan masyarakat akan album-albumnya yang selama itu dijamin pasti laku sekali saat diluncurkan, perusahaan-perusahaan recording yang paling utama di Indonesia, seperti: Irama Records, Remaco dan Bali Record merasa tidak keberatan untuk mengontrak Lilis sendiri-sendiri dalam waktu serentak.
Sunday, September 2, 2012
04 Eka Sapta
EKA SAPTA
SATU TERULUNG TUJUH TERMAHIR
Oleh: Nathan Mintaraga
Ketenaran Lilis Suryani di Indonesia menjadi makin semarak ketika ia, sebagai bintang yang paling cemerlang di masa itu, bekerja sama dengan grup legendaris Eka Sapta, sebuah orkes yang mempunyai anggota-anggota pemusik selebriti seperti: Bing Slamet, Idris Sardi, Ireng Maulana, Itje Kumaunang, Darmono, Benny Mustapha dan Kamid, tujuh pemusik yang pada waktu itu juga diakui paling unggul di Indonesia.
Di bawah label Bali Record yang masih berada di bawah naungan Remaco, mereka merekam dua album mini (EP) 1 klasik dengan lagu-lagu yang terbukti sampai sekarang mampu menembusi waktu. Album pertama yang berjudul ‘Permata Bunda’ memperkenalkan empat lagu tak terlupakan, di mana tiga di antaranya adalah lagu-lagu gubahannya sendiri: Untuk Dikau, Permata Bunda, Pileuleujan (ciptaan Muslihat) dan Sabar Menanti.
SATU TERULUNG TUJUH TERMAHIR
Oleh: Nathan Mintaraga
Saturday, August 25, 2012
03.2 Adillah (2)
ADILLAH (2)
MENENTANG ARUS Oleh: Nathan Mintaraga
Kebiasaan-kebiasaan itu memang sedang terjadi ketika Lilis memulai karier musiknya tahun 1963. Tetapi ia membuktikan keseriusan bakatnya kepada artis-artis berbobot lainnya yang sudah terkenal pada waktu itu, seperti: Sam Saimun, Kris Biantoro, Bing Slamet, Bob Tutupoly, Onny Surjono, Titiek Puspa, Tuty Subardjo dan lain sebagainya, bahwa sebagai artis remaja pendatang baru yang sangat berbakat di dunia musik populer di Indonesia, ia patut diperhitungkan sebagai seorang contender yang tidak boleh diremehkan!
Tidak memakan waktu terlampau lama Lilis berhasil meraih posisi tertinggi di mana ia langsung diakui sebagai bintang rekaman nomor satu di Indonesia! Jika artis-artis lain biasanya hanya mampu meraih satu/dua hits saja sepanjang karier mereka lalu menghilang untuk selama-lamanya, setiap tahun di awal pertengahan dasawarsa ke-60 Lilis Suryani memberondong dunia musik populer Indonesia dengan lagu-lagu barunya yang tak terlupakan.
Wednesday, August 22, 2012
03.1 Adillah (1)
ADILLAH (1)
MENENTANG ARUSOleh: Nathan Mintaraga
Dikatakan, bahwa kesuksesan seorang kontestan yang menyanyi di acara-acara reality TV zaman sekarang biasanya tergantung sekali pada beberapa faktor (syarat) terpenting.
Simon Cowell, salah seorang judge (juri) yang paling terkenal dari acara-acara: ‘American Idol’, ‘Britain’s Got Talent’ dan ‘The X Factor’, pernah berkata, bahwa selain diperlukan bakat suara yang indah, unik dan tersendiri, sikap yang menyenangkan dan paras yang menarik, diperlukan juga kemampuan untuk bisa memilih lagu-lagu yang cocok, menciptakan sebuah ‘moment’ yang mengesankan, nasib yang ‘beruntung’, dan tak terlupakan: kisah hidup yang bisa menjamah hati para pemirsa/penonton. Lebih mengharukan lebih seru!
Saturday, August 18, 2012
02 Tjai Kopi
TJAI KOPI
LAHIRNYA SEBUAH LEGENDA Oleh: Nathan Mintaraga
Pada tahun 1963, bersama Moeslihat, juga dikenal sebagai Muslihat atau Mus K Wirya, seorang penyanyi, pencipta lagu-lagu terutama yang berbahasa Sunda, dan pemimpin orkes Suita Rama, Lilis Suryani yang pada waktu itu masih menyebut dirinya sendiri Lies Surjani memulai karier musiknya dengan merekam album mini (EP) 1 mereka yang pertama di bawah label Irama Records: ‘Tjai Kopi’ 2.
Album tersebut memperkenalkan dua lagu perdananya: Tjai Kopi, karya Moeslihat, dan Dikala Malam Tiba, lagu gubahan Lilis sendiri yang sebagian besar dari melodi, nada dan ketukan iramanya diilhami oleh sebuah lagu barat: You are My Destiny, karya Paul Anka.
Friday, August 17, 2012
01 Artis Legendaris Indonesia
ARTIS LEGENDARIS INDONESIA
LILIS SURYANI
Oleh: Nathan Mintaraga
Lilis Suryani, yang juga dikenal dengan nama Lies Surjani/Lilies Surjani dan lahir pada tanggal 22 Agustus 1948 di kota Jakarta, adalah seorang penyanyi legendaris dan pencipta lagu yang berhasil mempengaruhi dan mengubah panorama seni musik populer Indonesia di pertengahan pertama tahun 1960-an.
Pada saat dunia musik pop di sana kehilangan kredibilitasnya awal dasawarsa itu, ia tampil dan memprakarsai suatu era yang baru dengan lagu-lagu dan karya musiknya yang khas dan unik sekali. Ia juga merintis dan mempopulerkan secara nasional lagu-lagu berbahasa daerah, seperti: Sunda, Minang, Jawa, Makasar, Dayak, Betawi dan lain-lainnya. Bahkan Lilis adalah artis pertama yang berhasil memadukan lagu-lagu berirama dangdut, keroncong serta berbagai pantun tradisional dengan irama-irama populer, jauh sebelum penyanyi-penyanyi lagu pop lainnya mempunyai keberanian untuk melakukannya.
LILIS SURYANI
Oleh: Nathan Mintaraga
Lilis Suryani, yang juga dikenal dengan nama Lies Surjani/Lilies Surjani dan lahir pada tanggal 22 Agustus 1948 di kota Jakarta, adalah seorang penyanyi legendaris dan pencipta lagu yang berhasil mempengaruhi dan mengubah panorama seni musik populer Indonesia di pertengahan pertama tahun 1960-an.
Pada saat dunia musik pop di sana kehilangan kredibilitasnya awal dasawarsa itu, ia tampil dan memprakarsai suatu era yang baru dengan lagu-lagu dan karya musiknya yang khas dan unik sekali. Ia juga merintis dan mempopulerkan secara nasional lagu-lagu berbahasa daerah, seperti: Sunda, Minang, Jawa, Makasar, Dayak, Betawi dan lain-lainnya. Bahkan Lilis adalah artis pertama yang berhasil memadukan lagu-lagu berirama dangdut, keroncong serta berbagai pantun tradisional dengan irama-irama populer, jauh sebelum penyanyi-penyanyi lagu pop lainnya mempunyai keberanian untuk melakukannya.
Labels:
Artis Legendaris,
Bimbang,
Dikala Malam Tiba,
Ernie Djohan,
Fauzi Bowo,
Gang Kelintji,
Gendjer-Gendjer,
Grace Simon,
Irama Records,
Lilis Suryani,
M Arief,
Musik 60-an,
Suyoso Karsono,
Titiek Puspa,
Wikipedia
Wednesday, August 15, 2012
Lilis Suryani
LILIS SURYANI
BIOGRAFI SINGKAT
Oleh: Nathan MintaragaBIOGRAFI SINGKAT
Lilis Suryani, yang dilahirkan pada tanggal 22 Agustus 1948 di kota Jakarta, adalah seorang penyanyi legendaris dan pencipta lagu yang berhasil mempengaruhi dan mengubah panorama seni musik populer Indonesia di pertengahan pertama dasawarsa ke-60.
Lilis mulai terjun ke dunia musik ketika berusia 12 tahun dan masih duduk di Sekolah Rakyat (SR) ‘Toa Pekong’, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Tahun 1963, ketika baru menginjak usianya yang ke 15 dan sedang menimba ilmu di Sekolah Kepandaian Putri Boedi Oetomo, gara-gara tampil di TVRI Stasiun Pusat Jakarta, ia mendapat tawaran dari Irama Records, perusahaan piringan hitam terbesar di Indonesia pada waktu itu, untuk merekam suaranya di sana.
Labels:
Artis Legendaris,
Bimbang,
Dikala Malam Tiba,
Gang Kelintji,
Hesty,
Irama Records,
Lilis Suryani,
M Junus Ja'far,
Musik 60-an,
Paduan Djandji,
Permata Bunda,
Ratapku,
Titiek Puspa,
Tjai Kopi,
Untuk Dikau,
Wikipedia
Tuesday, August 14, 2012
Nathan Mintaraga
NATHAN MINTARAGA
MENGGALI NOSTALGIA – MENGISI ARSIP PUSAKA
Oleh: Nathan MintaragaMENGGALI NOSTALGIA – MENGISI ARSIP PUSAKA
Ketika ia mendengar suara seorang artis baru bernama Lilis Suryani untuk pertama kalinya, menyanyikan lagu-lagu dengan irama-irama yang terdengar jauh lebih cocok untuk selera generasinya pada waktu itu, disisipkan di antara lagu-lagu seperti: Diwadjahmu Kulihat Bulan (Sam Samiun), Kampuang Nan Djauh di Mato (Oslan Husein), Nurlela (Bing Slamet), Sengsara (Rachmat Kartolo), Sampul Surat (Rita Zahara), dan Menanti di Bawah Pohon Kambodja (Nien Lesmana), ia menjadi tertarik sekali untuk mengetahui lebih lanjut asal-usul dan jati diri penyanyi itu.
Labels:
Adillah Tjiptaan Duniaku,
Bimbang,
Bing Slamet,
Dikala Malam Tiba,
Lilis Suryani,
Nien Lesmana,
Oslan Husein,
Paduan Djandji,
Rachmat Kartolo,
Ratapku,
Rita Sahara,
Sam Samiun,
Tjai Kopi,
Wikipedia
Monday, August 13, 2012
Selamat Datang!
Bagi Anda yang ‘kebetulan’ mengunjungi blog ‘Menggali Nostalgia’ – Lilis Suryani – Artis Legendaris Indonesia ini, saya mengucapkan: “Selamat Datang!”
Blog ini dikaryakan khusus untuk memperingati dan merayakan dunia musik pop di Indonesia dasawarsa ke-60 sampai awal tahun 70-an, yang berpusat keseluruhannya pada artis legendaris Lilis Suryani, seorang penyanyi dan penggubah lagu yang paling termasyhur di era itu.
Lilis juga berhasil memegang dua records yang sampai sekarang belum terpecahkan di Indonesia. Salah satu di antaranya adalah sebagai satu-satunya artis yang bisa bertahan ‘di atas’ hampir empat tahun lamanya (1963-1966), di mana semua album dan lagu-lagunya secara berturut-turut menguasai tangga lagu-lagu daerah, dan juga nasional. (Lihat artikel: Nathan Mintaraga – Menggali Nostalgia – Mengisi Arsip Pusaka)
Subscribe to:
Posts (Atom)





















